Tuesday, July 7, 2015

Sajak Kehidupan

Sajak Kehidupan

Tak pernah terpikirkan olehku akan warna masa depan
Yang ada hanya bayang-bayang masa lalu
Hati sedih menatap ke belakang
Hati khawatir menatap ke depan

Sajak-sajak kehidupan yang tak pernah rampung
Aku tatap
Menyisakan puing-puing reruntuhan jiwa
Yang tiap kali menatapnya, hati terasa tersayat
Ikatan yang mulai terikat kencang
Mulai kendur oleh terpaan angin

Sajak-sajak kehidupan yang tak pernah rampung
Aku tatap
Masih saja menyisakan goresan-goresan pena
Yang tiap kali berusaha menghapusnya, hati terasa tersakiti
Ikatan yang mulai terikat kencang
Mulai kendur oleh terpaan badai

Sajak-sajak kehidupan yang tak pernah rampung

Aku tatap sekali lagi

Sunday, July 5, 2015

Perjalanan Jiwa dalam Arus Kehidupan Manusia

Perjalanan Jiwa dalam Arus Kehidupan Manusia

Jiwa tak selalu benar dalam membimbing perjalanan hidup kita. Ia kadang-kadang berbelok arah. Di sanalah peran akal dan hati berfungsi sebagai pemandu agar jiwa kembali lagi ke jalan yang benar.

Banyak diantara kita yang dalam perjalanan ke suatu tempat karena tergesa-gesa maka ia mencari jalan pintas. Agar cepat sampai tujuan.

Tapi tahukah engkau ternyata jalan pintas tadi membuat jiwa kita kadang sedih, binggung, cemas, dan lemah.

Terus apa yang harus kukatakan?
Luka semakin melebar
Duri-duri serasa menusuk kaki
Jiwa menjadi binggung
Leher terasa sesak

Wahai Rabbi! Selamatkan aku dari kebinggungan ini
Yang menghapus impian
Menghantui pikiran
Serta mengundang pertanyaan tiada henti

Pada suatu hari, harapan, kenangan, kebahagian dan putus asa berdiskusi membicarakan sebuah permasalahan.

Harapan berkata, ”Ketika itu aku seperti cahaya kehidupan yang terbawa angin pada musim gugur disegala penjuru mataangin.”

Kenangan menimpali, “Aku telah berlalu dan tak akan pernah bisa kembali pada kehidupan manusia. Aku terikat kuat dalam goresan pena.”

Putus asa berkata dengan angkuhnya, “Dalam kehidupan akulah yang membuat banyak orang berlinang air mata dan berbagai kerinduan yang menyesakkan dada.”


Ketika putus asa terdiam, kebahagiaan mulai muncul. Ia adalah impian. Impianlah yang membuat yang lemah menjadi kuat, yang jatuh kembali bangkit, yang tersesat kembali berbelok ke jalan lurus, dan yang sedih menjadi bahagia.

Friday, July 3, 2015

Pergi Sementara dari Tanah Para Raja

Pergi Sementara dari Tanah Para Raja

Menanam rumput di halaman, 3 Juli 2015

Pagi ini ada yang nampak berbeda. Aku bersemangat sekali sehingga mau datang di majlis taklim yang cukup jauh sekitar 3 km. Telah setahun lamanya aku terpenjara di kota pelajar. Di universitas negeri pertama di Indonesia.

Kamar rapi. Baju bersih. Badan suci. Untuk menyambut sholat jum'at terakhirku di kota gudeg. Banyak keragaman yang ada di sana termasuk agama.

Matahari tepat di atas kepala. Saatnya adzan jum'at berkumandang. Kupandangi jam dinding yang semakin cepat. Anak Etos pada antri bak mandi. Kebiasaan buruk. Mepet sukanya.

Bayang-bayang sang surya kian tebal. Menutupi dosa-dosa manusia pribumi. Lingkungan rusak oleh tangan-tangan mereka. Lautan dan daratan mulai resah. Apakah ini kelakuanmu? Wahai Sang Khalifah.

Pertama aku tak kenal siapa Beliau. Dahulu aku mengenalnya saat hari jum'at. Beliau tak lebih dari lelaki tua yang senang menebar benih-benih kehidupan di kota Jogja.

Beliau bukan lulusan dari perguruan tinggi yang hebat. Biasa-biasa saja. Bukan dari anak orang kaya apalagi pintar. Biasa-biasa saja. Beliau juga harus merawat Ibunya yang kini usianya 89 tahun.

Setiap kali Beliau berpergian, tak akan meninggalkan Ibunya sendirian. Harus ada orang yang menjaganya. Baru hatinya bisa tenang.

Ada puluhan nasihat yang sering beliau wasiatkan kepadaku. Sehingga jadilah aku seperti sekarang ini. Pemuda yang berkepribadian tangguh dan peka dengan lingkungan.

Dan kini aku pamitan dengannya pada hari jum'at pula untuk kembali ke desa kelahirannku. "Bangunlah desamu, saat engkau kembali kelak," itu pesan yang selalu Beliau haturkan.

Jogja terima kasih karena telah mengizinkan aku menapakkan kaki di tanahmu. Semoga Allah swt melindungi kota yang indah dan nyaman ini. Setahun bersamamu, aku bangga dan bahagia.